3 Alasan Kenapa Tahun Baru Tidak Pantas Dirayakan


Alasan Kenapa Tahun Baru Tidak Pantas Dirayakan - Di malam pergantian tahun sebagian orang berbondong-bondong keluar rumah, berkendara menuju pusat kota atau bahkan ke luar kota untuk merayakan pergantian tahun. Tujuan mereka pun sama dari tahun ke tahun: menyalakan atau melihat kembang api “bermekaran” di langit dan meniup terompet. Atau bahkan bagi golongan orang berkantong tebal, mereka party-party all night long.

Well, saya nggak menyalahkan itu, itu hak bagi setiap orang. Tapi pada artikel ini saya hanya ingin mencurahkan apa yang ada di kepala saya terhadap malam pergantian tahun. Pantas atau tidak untuk dirayakan?

Dulu, saat masih remaja (sekarang masih remaja juga, tapi kepala udah sedikit berisi) saya juga pernah ikut-ikutan merayakan pergantian tahun. Bersama teman mengendarai  motor hasil keringat orang tua, itu pun masih kredit, konvoi dari basecamp menuju pusat kota yang jaraknya cukup bikin pantat pegel. Dengan kondisi kemacetan yang nggak karuan, kami tetap yakin untuk melanjutkan perjalanan bodoh ini.

Akhirnya setelah sampai di pusat kota, jalanan sudah dipenuhi oleh ratusan atau bahkan ribuan orang. Tujuan kami sama: melihat kembang api, dan menyalakannya bagi orang yang berduit. Kami? Tentu termasuk golongan kedua, plonga-plongo sambil bersorak, “Wooo! Happy new year! Selamat tahun baru!”. Momen itu pun kami unggah di akun sosial media dengan caption, “Semoga tahun ini lebih baik dari tahun kemarin”.

Disclaimer, pada artikel ini saya nggak akan menggunakan alasan agama terkait “Kenapa Tahun Baru Tidak Pantas Dirayakan”. Alasannya, karena di luar dari agama itu sendiri, kalau kita sedikit berpikir, nggak ada pantas-pantasnya malam pergantian tahun dirayakan. Kenapa? Berikut ulasannya:

1. Buang-Buang Uang dan Tenaga

Alasan pertama tentu saja buang-buang uang. Ya meskipun nggak keluar biaya buat beli kembang api dan terompet, bensin motor dan jajan-jajan yang lain juga butuh uang kan? Well, daripada keluar uang buat beli sesuatu yang nggak berguna (karena ujung-ujungnya juga jadi abu, dan dibuang), mending uangnya ditabung buat modal nikah, buka usaha kecil-kecilan, atau bahkan mengembangkan bisnis yang udah ada.

Kamu pikir nggak capek apa naik motor atau mobil dari rumah menembus kemacetan yang sebegitu parah? Belum lagi kalau motor atau mobil diserempet orang, udah capek badan, pikiran juga dibuat capek. Ditambah suara klakson yang tan-tin-tan-tin tanpa henti.

2. Impian Kamu Udah Tercapai?

Artikel ini dibuat karena alasan yang kedua ini. Kok bisa-bisanya orang merayakan pergantian tahun yang mana di tahun sebelumnya dia nggak berhasil mencapai satu impian pun? Ini kalau diibaratkan kayak orang baru saja dipecat, nggak cari pekerjaan baru tapi malah foya-foya sampai gaji terakhirnya habis. Nggak ada empati pada diri sendiri.

Ya meskipun ada satu impian kamu yang sudah tercapai, kembali lagi ke alasan yang pertama. Intinya sama aja, nggak ada pantas-pantasnya pergantian tahun dirayakan.

3. Banyak Bencana

Kembali lagi ke masalah empati. Setiap tahun bahkan setiap bulan, banyak bencana yang terjadi di setiap daerah, seperti banjir, longsong, gempa, sampai tsunami. Alasan ini memang sedikit nggak masuk akal, "Yang kena bencana kan daerah A, kami yang di daerah B kan nggak kena bencana". Mas/Mbak, empati itu penting. Kamu yang daerahnya adem ayem malah enak-enakan bakar duit dan ketawa-ketiwi. Sedangkan di daerah yang sedang atau habis terkena bencana mereka malah bingung mau tidur di mana atau besok harus ngapain, karena pikirannya udah kusut.

Selain itu kalau kamu tetap ingin merayakan tahun baru, kenapa nggak patungan sama warga terus bakar ayam ramai-ramai, makan bareng-bareng ngobrol dan kalau ada warga yang kekurangan bisa sedikit dibantu. Tapi lebih baik jangan, lakukan aktivitas seperti biasa aja.

Pergantian tahun itu menurut saya bukan sesuatu yang pantas untuk dirayakan. Meskipun kamu merasa sudah berkecukupan dalam hal materi, masih ada alasan lain yang menjadikan malam pergantian tahun tidak pantas dirayakan, seperti tiga alasan di atas. Sekali lagi, ini pandangan saya pribadi. Boleh setuju atau tidak, yang jelas saya sangat tidak setuju kalau tahun baru dirayakan.


baca juga : Tertawa bisa kurangi berat badan

Iklan Atas Artikel

iklan tengah artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel